Sabtu, 09 Desember 2023

Shift The Power


Menuju Filantropi Komunitas. Saatnya masyarakat memimpin. Begitu pesan utama dari Global Summit 2023 Shift the Power yang diselenggarakan di Bogota, Kolombia pada tanggal 5-7 Desember 2023. Tujuh ratus peserta dari 160 negara dihadirkan dalam konferensi tiga hari yang bertujuan mendekolonialisasi bantuan pembangunan dan donor. Konsep dekolonilaisasi ini lahir dari sejumlah kenyataan bahwa dukungan pendanaan dari pihak internasional dan donor agensi, telah terbukti menciptakan ketergantungan kepada masyarakat, birokratisasi NGO, menumpulkan kekuatan akar rumput, dan mematikan gerakan masyarakat sipil. Ini tidak bisa dibiarkan. Shift the Power menawarkan konsep membangun dari, oleh dan untuk masyarakat. 

Shift the Power merupakan gerakan global yang mengkonsolidasikan berbagai aktor yang memiliki keyakinan yang sama bahwa komunitas memiliki kekuatan untuk membangun, bangkit dan pulih. Sayangnya, cara pandang kolonial yang dipakai sejumlah Agensi internasional dan donor, sebaliknya meletakkan komunitas sebagai obyek pembangunan bukan subyek aktif yang memiliki  pengetahuan dan pengalaman, serta sumber daya cukup untuk menjawab krisis kemanusiaan. 

Saya tidak menyesal menjadi bagian dari perhelatan besar dunia yang secara keras menggugat cara pandang kolonial di dalam bantuan kemanusiaan dan upaya pemulihan masyarakat. Konferensi diformat dengan sangat menarik dimana ruang-ruang interaksi dibuat informal, tanpa menghilangkan kedalaman subtansi, dan menekankan semua presentasi membawa pesan “masyarakat sebagai co-designer dan co-creator dari sebuah perubahan. 

Kehadiran berbagai aktor dari latar belakang CSO, lembaga filantropi komunitas, agensi donor, sektor swasta, lembaga grant making dan pemerintah, menjadikan ruang-ruang pertukaran perspektif sangat dinamis, santai, dan dewasa. Sejumlah tokoh pembuat perubahan ditampilkan sebagai pidato kunci yang mendobrak ekosistem pendanaan asing dan donor, geliat kemandirian masyarakat yang justru dibangun dari inner power (kekuatan dari dalam). 

Sesuai dengan judulnya Shift the Power, maka kemasan dari konferensi juga dibuat keluar dari pakemnya. Peserta diberikan sejumlah pilihan untuk melakukan refleksi melalui sesi-sesi “bucket” yang dikemas roundtable discussion sehingga setiap orang mendapatkan kesempatan. Sementara kemasan sesi panel dipilih pembicara yang telah betul-betul melakukan shift the power, sehingga bisa menginspirasi banyak pihak. Sesi paralel disebut Bucket, memiliki agenda penguatan transformasi individu aktor dan komunitas, seperti skill story telling, membuat ukuran emosi pada LFA, dekolonialisasi, community safety, climate change, dan self care berupa tarian salsa lokal. Di luar ruangan disediakan sejumlah booth yang menyediakan kopi asli gratis, Teh herbal dan sejumlah obat-obat tradisional. Ada korner jus sehat dari berbagai buah-buahan dan sayuran lokal, dan berbagai kursi-kursi unik dan nyaman jika peserta memilih tidak mengikuti sesi. 

Akar Pikir Kolonial yang Berbahaya

Soheir Asaad dari RAWA Creative Palestine bertanya secara kritis “mengapa persoalan krisis air, secara sederhana dijawab dengan mengirimkan air ke Palestina. Padahal, persoalan krisis air yang mendasar adalah penguasaan sumber daya. Ini yang tidak secara tuntas diselesaikan oleh kerja kemanusiaan internasional. Internasional tidak berusaha untuk membahas dan mencari solusi terkait dengan penjajahan yang dilakukan Israel bertahun-tahun. Bahkan sejumlah lembaga internasional butuh waktu panjang sampai pada keputusan bahwa persoalan di Gaza baru-baru ini, membutuhkan solusi genjatan senjata. Apa yang dilakukan dunia kepada Palestina, tidak menjawab akar masalah. Soheir merasa bantuan kemanusiaan justru “membunuh” rakyat Palestina karena tidak didesain menjawab akar masalah, dan menjadikan rakyat Palestina obyek pasif dari bantuan. 


Kesalahan pikir yang lainnya adalah tidak berdasarkan pada nasib rakyat.  Martha Ruiz, seorang jurnalis dan mantan Komisi Kebenaran Kolombia mempercayai bahwa truth (kebenaran), seharusnya bisa menjadi landasan untuk membangun perdamaian. Kebenaran yang dituturkan oleh para korban pelanggaran HAM, khususnya perempuan korban yang mengalami Sexual Gender based Violence, akan memandu kerja-kerja Transitional Justice, dimana negara bertanggungjawab pada pemulihan seutuhnya korban, menghentikan impunitas, dan reformasi kelembagaan. Sayangnya proses yang terjadi belum betul-betul membasiskan pada keselamatan masyarakat. Dominan kepentingan politik dan kekuasaan, sangat tercermin dalam babak baru Kolombia yang harus menghadapi fraksi-fraksi di sektor keamanan yang merasa tidak terwakili dalam perundingan damai. Sejumlah kriminalitas dan teror ketakutan, serta perampasan tanah-tanah suku tertentu masih terjadi,   adalah ekspresi ketidakpuasan.                                         

Di Srilanka, bantuan asing telah menimbulkan kekerasan struktur. Ambika Satkunanantan, dari Neelam Tiruchelvam Trust Srilanka menduga karena banyaknya pelunakan bahasa yang dipakai oleh agensi internasional, untuk tujuan acceptance (penerimaan). Misalnya bahasa social justice (keadilan sosial), dengan mudah digantikan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), yang sangat mungkin mengikis esensi dari keadilan sosial yang memiliki yang seharusnya memiliki aspek penguatan pilar demokrasi dan penegakan HAM. Termasuk kerja-kerja Filantropi, yang mengedepankan charity dan tidak membasis pada konsep demokrasi, secara perlahan telah membangun birokratisasi baru pada NGO, standarisasi akuntabilitas yang hanya berpihak pada kelompok besar, menyingkirkan kelompok kecil, dan yang paling parah mengikis kekuatan masyarakat sendiri. 

Shift the Power: Dekolonialisasi dan Demokratisasi Bantuan

Konferensi menyerukan untuk Shift the Power melalui dekolonialisasi dan demokratisasi bantuan. Yang saya bisa tangkap dari percakapan selama konferensi terkait dengan dekolonialisasi mengandung sejumlah hal sebagai berikut yaitu: 

Pertama, bantuan haruslah memberdayakan, bukan menciptakan ketergantungan. Saat ini kita menyaksikan dan mungkin terlibat dalam siklus ketergantungan yang diciptakan oleh aktor pembangunan internasional. Selain bantuan tidak selalu menyelesaikan akar masalah, saya menduga bahwa ada kepentingan merawat ketergantungan, karena penyaluran bantuan internasional, adalah cara balancing sistem keuangan negara maju untuk menjaga stabilitas. Pemberdayaan dan kemandirian mensyaratkan intervensi jangka panjang, karena yang sedang dijawab adalah akar masalah. Kini, kita dihadapkan pada projek-projek pendek, yang sering tidak menemukan konektivitasnya. Bahkan trend donor lebih mengarah pada pendanaan berbasis pada tema-tema, dan meninggalkan tugas utama masyarakat sipil yaitu menjaga civic space. Mereka disibukkan projek dan administrasi, memunggungi pendekatan komprehensif. Tahun 2010 Asociation of Women in Develpment (AWID) telah mengeluarkan laporan berjudul “Watering the Leaves, Starving the Roots”, membahas tentang trend donor yang cenderung mendukung projek individu organisasi, tapi membiarkan gerakan kolektif masyarakat sipil kekeringan kurang dukungan. Padahal gerakan kolektif inilah yang menjadi akar dari masyarakat sipil. 

Kedua, keluar dari ukuran akuntabilitas dan transparansi yang “normal”, dengan membawa indikator yang memungkinkan mewakili kontribusi komunitas, misalnya relasi, emosi, labor, dan lain-lain. Kontribusi masyarakat sering tidak dihitung menjadi bagian dari sukses program. Sejumlah lembaga sudah mulai menggagas pola-pola reporting yang lebih mengarah pada story telling perubahan di masyarakat. Atau pola satu laporan untuk berbagai donor di kalangan donor yang berlatar belakang sektor privat. Ada sejumlah geliat dekonstruksi yang ditawarkan kepada masyarakat sipil untuk keluar dari pikiran kolonial hubungannya dengan pendanaan pembangunan. 

Ketiga, dekonstruksi struktur kolonial yang membelenggu gerak leluasan komunitas, dan Kembali pada struktur masyarakat yang jauh lebih bisa memberikan keleluasaan dalam mendorongkan sebuah perubahan. 

Tampaknya gerakan ini sudah mengglobal, sehingga pada Global Summit 2023, saya menemukan banyak sekali praktik baik yang sudah dijalankan sejumlah pihak untuk melawan kolonialisasi pendanaan dengan demokratisasi yang lebih memberikan ruang secara setara kepada banyak pihak. Dalam demokratisasi ini, saya merapikan praktik-praktik baik dalam bentuk pointers. 

Pertama, menguatkan gerakan masyarakat sipil bukan memperkaya individu organisasi. Frustasi melihat perlakukan donor internasional yang tidak sensitif, dan menempatkan masyarakat sebagai penerima pasif. RAWA Creative Palestine mendekolonialisasi pola gerakan funding dengan mendirikan lembaga filantropi yang memiliki misi membantu gerakan sosial, bukan tematif. Mendorong agar komunitas melanjutkan berbagai gerakan resistensi, dan mengarah pada keberdayaan sendiri. Salah satu cara yang sedang disosialisasikan adalah Shift the power dengan memperkuat story telling, untuk mendorong masyarakat menginmajinasikan sebuah dunia baru, tetapi juga membangun story mereka di komunitas, sehingga bisa menemukan dukungan yang lebih kuat. 

Kedua, keluar dari trend topik, dan Kembali memperkuat ruang sipil agar lebih demokratis, sehigga bisa mendukung berbagai macam perkembangan isu. Ellas Filantropi, yang digagas di Brazil. Khusus memberikan penghargaan dan dukunga kepada gerakan perempuan, dengan latar belakang berbeda. Melihat bahwa 30% organisasi perempuan bekerja tanpa legalitas, bukan berarti mereka tidak sah melakukan sejumlah intervensi. Generoses Award diluncurkan untuk memberikan penghargaan gerakan perempuan yang telah terbukti turut mendorongkan perubahan. 

Ketiga, menciptakan narasi baru dengan membaca realitas lokal dari kacamata yang lebih fair, meletakkan masalah dan solusi sebagai dua sisi koin yang bersandingan. Marie Rose Ramain Murphuy dari Haiti, berhasil menciptakan narasi baru ketika Haiti, dipandang sebagia negara hopeless yang tidak mungkin bangkit dari keterpurukan karena kelemahan yang dimiliki masyarakat dan infrastruktur negara. Dengan dorongan kenyataan kemiskinan dan dampak disaster yang dihadapi oleh Haiti, dengan kemiskinan absolut, semakin tipisnya kepercayaan funding karena kasus korupsi, dan berbagai bentuk keterpurukan. Marie, Bangkat dengan keyakinan bahwa pentingnya mengakui dan melibatkan kekuatan masyarakat. Menjadi masyarakat sebagai founder, patners dan implementor dari projek, sehingga kepemilikan publik akan sangat kuat. Bersama the Haiti Community Foundation, mereka bergerak bersama-sama telah mengubah hidup 15,000 orang. 

Way Forwards: Akankah Filantropi Komunitas Membawa Kemandirian?

Filantropi Komunitas merupakan jawaban untuk melepaskan dari kolonialisasi pendanaan. Saya juga menyakini bahwa masyarakat memiliki kekuatan sendiri untuk keluar dari situasi krisis, dan pulih dengan menggunakan kearifan lokal dan sumber-sumber tidak mengikat serta kesukarelawanan yang mereka hidupi bertahun-tahun. Maka, sudah saatnya masyarakat dikembalikan kepada kekuatan genuine mereka. Mengapa konsep filantropi komunitas menjadi alternatif Shift the Power kita? 

Pertama, filantropi komunitas mengandung makna bahwa setiap anggota masyarakat memiliki potensi untuk berbagi sumber daya baik berupa pikiran, uang, rasa kemanusiaan, atau berbagai barang. Seseorang yang memiliki kelebihan maka seharusnya memiliki tanggungjawab yang lebih. Kesadaran akan posisi masing-masing, kemudian mengambil tanggungjawab sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, mendukung berkembangnya Filantropi Komunitas.

Kedua, memulai dengan connecting the dots. There is nothing new under the sun. Ungkapan ini mengingatkan kita selalu bahwa ada orang lain pendahulu kita, atau ada banyak orang yang melakukan sejumlah hal mirip dengan kita. Maka tugas kita adalah menemukan “dots” atau orang-orang ini yang memiliki visi yang sama. Dalam kerja-kerja The Haiti Community Foundation, mereka melibatkan diaspora Haiti di luar negeri untuk mendukung pembentukan dan berjalannya foundation. 

Indonesia bagaimana? Kita telah memulai ini dengan berbagai macam pendekatan. Di berbagai wilayah, masyarakat telah melakukan sebuah perubahan dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. Munculnya berbagai bentuk filantropi sebauh pertanda bahwa kekuatan finansial dalam negeri menjanjikan. Jika memang memungkinkan, kenapa harus tergantung kepada pendanaan asing yang tidak konstruktif. *** 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar