Jumat, 16 Juni 2023

 

Pada tanggal 13-15 Juni 2023, saya menghadiri konferensi internasional yang diselenggarakan oleh SEARCCT, di Hotel Hilton, Kuala Lumpur. Konferensi tiga hari mengangkat tema tentang Building Digital Resilience in Preventing and Countering Violent Extremism - P/CVE . Perkembangan dunia digital yang cepat, dengan hadirnya Artificial Intelegent membuka ruang-ruang baru bagi kelompok extrimis dan teroris untuk melakukan rekrutmen kepada anak-anak muda dengan cara-cara baru. 


Sejumlah study menemukan adanya penurunan aktifitas terorisme, tetapi ada peningkatan pada aktifitas hatespeech di media sosial. Penyebaran ujaran kebencian ini difasilitasi internet dan media sosial, yang memiliki berbagai macam fitur kemudahan membangun konektifitas antar individu secara bebas. Ribuan informasi perdetik masuk dalam ruang privat kita dan tidak mungkin dicegah. Penyebaran ujaran kebencian maupun propaganda ekstremis semakin beragam dan maju mengikuti perkembangan teknologi dan ketersediaan berbagai platform online yang digemari oleh anak-anak muda. Sayangnya, angka literasi terhadap pencegahan ekstremisme pada anak-anak muda tidak berbanding lurus dengan kecepatan akses pada teknologi dan keingintahuan mereka yang kuat kepada berbagai informasi, gaming, dan fasilitas lainnya. Mereka rentan terpapar propaganda yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok extremis. 


Gagasan digital resilience bukanlah hal baru, tetapi sebenarnya seberapa efektif kita melakukan upaya untuk membangun resiliensi di ruang digital. Tidak ada resep khusus dalam memenangkan pertarungan di media sosial. Bahwa kenyataannya kita tidak bisa mencegah para ekstrimis dalam menggunakan ruang digital, tetapi yang bisa dilakukan adalah bagaimana membuat kita semua resilience dalam menggunakan ruang digital. Sejumlah strategi yang dipaparkan dalam konferensi diantaranya adalah: 


Pertama, bekerja dengan credible voices, yaitu kelompok yang dianggap memiliki legitimasi kuat dalam upaya mengcounter narasi propaganda. Credible voices tidak tunggal. Mereka bisa dari sisi para mantan pelaku dan keluarganya, para korban dan penyintas terorisme, pada gamers, spoters, atau para tokoh agama atau perempuan di komunitas, yang kesemuanya memiliki pengaruh masing-masing pada upaya counter narasi. Yang paling penting bekerja dengan credible voices adalah memastikan mereka memiliki awareness dan skill yang cukup melakukan counter narasi. 


Kedua, kualitas counter narasi ditentukan oleh proses pembuatannya dimana mempertimbangkan banyak aspek seperti proses produksi narasi. Memilih paradigma, metodologi, dan cara yang tepat dalam memproduksi narasi, akan membantu upaya counter narasi menjadi jauh lebih maksimal. Media film, video pendek, gambar, ataupun teks lainnya sangat ditentukan oleh kecederungan penerimaan publik terhadap sejumlah intervensi.  Narasi baik adalah narasi yang sampai kepada audien. Pendekatan story telling, gaming, documentary film, sport dan sebagainya akan maksimal dengan dibarengi oleh kerja maksimal dan mengikutkan credible voices. 


Ketiga, era baru artificial interlegent adalah wilayah luas yang sangat perlu dijelajahi, agar secara maksimal kita melakukan perimbangan terhadap arus propaganda. Meskipun arusnya masih kecil yang bekerja di wilayah gamefication, tetapi wilayah ini tidak bisa ditinggalkan. 


Keempat,  bekerja dengan media menjadi bagian krusial dalam membangun resilience, tetapi sering kali dikalahkan dengan mediakrasi yang bias dan transaksional, sehingga sulit membawa perubahan dalam media. Institusi media memiliki peran dalam reshape narasi yang
dilahirkan oleh banyak pihak. 


Kelima, selain upaya untuk melakukan counter narasi, regulasi yang jelas terkait dengan pencegahan terorisme dan VE, termasuk upaya counter narasi juga perlu sebuah regulasi yang jelas dan tidak fragmented. Kelemahan regulasi adalah sering tidak fokus, sehingga menimbulkan multi tafsir yang justru berpotensi menjadi backlash bagi para aktor yang sebenarnya bekerja di sini. 


Bicara resiliensi di dunia digital, tetap membangun korelasi dan resonansi dengan dunia non digital. Sejumlah intervensi offline, akan membantu menurunkan nilai-nilai mulia menjadi lebih operasional dan secara nyata sangat diperlukan, khususnya dalam membangun ownership bersama pada isu. Maka, pertemuan antar aktor, membangun kolaborasi dan partnership, serta membangun kekuatan bersama dan saling mendukung, akan menambah resiliensi. Pada akhirnya, resiliensi digital akan tercapai jika resiliensi dunia nyata tercipta. ***  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar