Jumat, 03 Mei 2019

Tunis Forum on Gender Equality

Tunis Forum on Gender Equality adalah froum tahunan para feminist di wilayah Middle East, Eropa, dan Afrika untuk melihat capaian pelaksanaan kerja-kerja penguatan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, salah satuya adalah pelaksanan dokumen Beiijing Platform for Action (BPFA). Kali ini diselenggarakan di Tunis, Tunisia, pada tanggal 24-26 April 2019. Difasilitasi oleh Kementerian Perempuan, Anak, Disabiltias dan Elderly, Konferensi dihadiri oleh 500 lebih perempuan dari berbagai latar belakang untuk membincang tentang 25 tahun implementasi Dokumen Beijing 1995. Berikut adalah summarynya. 


Day 1, 24 April 2019
Beijing Plus 25: Gains v.s Challenges (1)

Tunis Forum on Gender Equality diselenggarakan untuk menyambut perayaan Beijing Platform for Action (BPFA) yang ke 25 tahun. Sebuah dokumen pemberdayaan perempuan pertama yang dirumuskan di sebuah Forum Dunia pada tahun 1995. Hak-Hak Perempuan adalah bagian dari HAM, begitu Hilarry Clinton saat itu menegaskan. Ada 12 isu penting yang dirumuskan dalam dokument BPFA, salah duanya adalah persoalan perempuan dalam bidang kesehatan dan konflik bresenjata. Yang lain bisa dibaca sendiri di dokument aslinya. 

Rabu, 02 Januari 2019

GCTF: Gender Based CVE and CSO Involvement

Keterlibatan perempuan dalam ekstremisme dan terorisme bukanlah hal yang baru. Sudah banyak studi-studi yang mengungkap bahwa perempuan memainkan peran penting dalam gerakan radikalisme mengarah terorisme di Idonesia dan dunia. Bom Surabaya yang terjadi pada bulan Mei 2018, dimana ibu dan anak terlibat sebagai pelaku, tampaknya dijadikan "turning point" untuk banyak lembaga nasional dan global bicara tentang pentingnya Gender Maintremaing dalam Countering Terrorism (CT) maupun Preventing/ Countering Violent Extremism (P/CVE).

Saya diundang untuk menghadiri pertemuan Global Counter Terorism Forum (GCTF), khususnya Working Group on CVE, sebagai bagian dari masyarakat sipil untuk memberikan kontribusi penting dalam mereshape agenda gender equality dan women's empowerment di GCFT. Kali ini yang topiknya khusus tentang Gender dan CVE dan keterlibatan CSO dalam kerja-kerja CVE.  Melalui Working Group on CVE, yang dipimpin oleh Indonesia dan Australia, workshop 2 hari yang diselenggarakan di Melbourn yaitu pada tanggal 18-19 December 2018 di Deakin University. Forum tersebut dihadiri oleh perwakilan negara-negara seperti Australia, Brunei, Malaysia, Myanmar, Phillipines, Indonesia, Thailand, Laos, Maroco, Bangladesh, China, European Union, Japan, Netherland, Saudi Arabia, Singapore, United Emirat Arab, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat sipil. 

Minggu, 30 Desember 2018

Politik Identitas: Siapa yang diuntungkan?

Bagi saya, dan mungkin sebagian dari kita, Pilkada DKI Jakarta adalah mimpi buruk yang terus menghantui sampai kini.  Bahkan banyak pengamat politik dan demokrasi menobatkan Pilkada Jakarta sebagai pesta demokrasi yang paling sarat praktek politisasi identitas, baik agama dan ethnik.  Politik identitas secara sederhana bisa dimaknai sebagai strategi politik yang memfokuskan pada pembedaan sebagai kategori utamanya (Agnes Heller). Menurutnya politik identitas dapat memunculkan toleransi dan kebebasan, namun di lain pihak,politik identitas juga akan memunculkan pola-pola intoleransi, kekerasan, dan pertentangan etnis.

Karena intensnya penggunaan narasi kebencian dan eksklusivisme,  seperti "kafir", "Cina", "hijrah", "jihad" dan sebagainya, membuat perpecahan di akar rumput, sulit untuk direkonsiliasi, utuh seperti semula. Tampaknya, penggunaan politik identitas dalam Pilpres 2019 disinyalir akan menjadi replika dari Pilkada DKI 2017.