Minggu, 27 Mei 2018

Membaca Keterlibatan Perempuan dan Anak dalam Ekstrimisme: Perspektif Gender

"Saya sudah memaafkan pelaku". Senyum datar Ibu Wenny, salah satu korban bom Surabaya menguatkan dirinya sendiri. Kehilangan dua putranya, Vincence dan Nathan, bukanlah hal yang mudah bagi ibu muda ini untuk kembali tegar dan memulai hidup barunya. Ingin rasanya berbincang lebih banyak, tapi kata-kataku tak bisa keluar lancar melihat luka-luka bakar di sekujur tangan putihnya, dan kaki kanan yang masih terbalut dengan perban. Sesekali dia meringis karena ngilu dibagian tangan kirinya yang sudah beberapa kali dioperasi. 

Ibu Wenny belum bisa berjalan ketika saya dan rombongan Peruati dan Kantor Staf Presiden mengunjunginya Senin sore 21 Mei 2018. Bom Surabaya telah menewaskan 13 orang dan 43 orang luka-luka, serta meninggalkan trauma bagi banyak orang, khususnya anak-anak yang ketakutan berangkat sekolah, menurut laporan Ibu Risma, saat membuka acara refleksi dan doa bersama di kantor wali kota pada hari Minggu, 20 Mei 2018. Memaafkan bukan berarti melupakan kejadian aksi terror.

Minggu, 01 April 2018

ANAK-ANAK DIJILBABI ATAU DICADARI, ADA APA?

#AnakBercadar #IslamNusantara 

Berbalut gamis kembang-kembang dan  jilbab sorong warna merah, seorang anak berusia 2 tahun terseok-seok dituntun oleh ibunya yang juga mengenakan gamis beda motif dengan jibab sorong juga. Mereka menyebrangi jalan menuju parkir motor Bintaro Xchange, Mall kesayanga aku dan suami menghabiskan waktu untuk jogging, ngopi dan baca buku setiap week end. 

Kami berpapasan. Kutebarkan senyum manisku ke arah si ibu yang sibuk membujuk si anak agar segera bergegas. Kuperhatikan si anak kecil itu, yang terlihat kurang nyaman dengan gamis lucunya membalut tubuh mungil. Dia terlihat beberapa kali mengangkat gamisnya. Mungkin untuk menolongnya agar cepat mengikuti ibunya. Dalam hati saya berkata "Duh...apa tujuan orang tua memilihkan baju gamis dan berjilbab  buat si anak berumur 2 tahun?." 

Kemarin sore pulang dari Sarinah, saya dan suami juga menemukan anak-anak berpakaian gamis hitam dan bercadar. Dia duduk bersama bapaknya yang mengenakan baju koko, celana cingkrang dan berjenggot. Ibunya duduk pas sebelah dia dengan menggendong adiknya yang lebih kecil, kira-kira umur 2 tahun. Si anak tersebut mengunakan jilbab. Ibunya menggunakan gamis hitam, dengan jilbab lebar dan cadar hitam. Si anak yang berumur 11 tahunan ini, juga mengenakan baju senada dengan ibunya dilengkapi cadar hitam. Mereka duduk di seberang saya dengan posisi horisontal. 

Minggu, 25 Maret 2018

Menebarkan Islam Indonesia, Mengukuhkan Peran Ulama Perempuan

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Hubbul Wathon minal Iman Wala Takun minal Hirman Inhadlu Ahlal Wathon….(Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku!..)

Sepenggal syair di atas diambil dari salah satu Mars NU berjudul Syubbanul Wathon (Cinta Tanah Air) karya Abdul Wahab Hasbullah ini berkumandang di House of Lords, London, saat Faqihuddin Abdulqodir, salah satu delegasi Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) memperkenalkan tradisi Pesantren pada forum Rising Women Ulama, pada tanggal 15 Maret 2018. 

Syair berbahasa arab dengan hentakan nada patriotik itu menggema dalam ruang berbalut kayu dengan ukiran klasik ala Eropa yang menawan. Suara berat Faqih dalam nada sedikit datar menembus dinding berkarpet hijau dengan motif kerajaan yang indah. Sejumlah ornamen lukisan anggota parlemen dalam balutan pakaian kerajaan Inggris yang khas, seolah bangkit kembali dalam sikap patriotik bela negara. Hening…Kulihat para peserta tersenyum tipis dan retina mereka membesar karena kagum, saat mendengar makna dari lagu tersebut.