Side event satu-satunya yang masih bisa saya hadiri adalah tentang “conflict prevention,post-conflict peacebuilding and the promotion of durable peace, rule of law and governance” dimana menghadirkan beberapa nara sumber yang dianggap kompeten membunyikan isu konflik dan intervensi pasca konflik. Ahme Al-Thani menekankan pada pentingnya Rule of law sebagai strategi untuk menyelesaikan konflik. Chistine Asare dari Ghana menakankan pada meskipun sudah ada sistem judicial di baik itu di level nasional dan lokal, tetapi tradisi lokal yang memicu konflik masih tetap jalan. Olehkarenanya dia mengusulkan untuk memasukkan elemen perdamaian sebagai cross cutting issue di pembangunan. Kesemuanya harus berlandaskan pada konstitusi negara, direksi rule of law, dan memiliki kesetaraan akses dan kontrol terhadap sumber daya dan promosi kesetaraan yang mengarah pada keadilan. Vesna Kos dari Crowasia menggemakan presentasi sebelumnya terkait dengan rule of law dan mengingatkan pada audien untuk melihat dokumen PBB terkait dengan persoalan konflik. Cross cutting elemen yang ditawarkan oleh Vesna adalah:
Sebuah ruang refleksi perempuan untuk memikirkan kembali konsep perdamaian melalui kajian filosofis perempuan dan perdamaian, serta praktek-praktek terbaik perempuan dalam perdamaian di Nusantara.
Tampilkan postingan dengan label post conflict intervention. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label post conflict intervention. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Februari 2014
Conflict Prevention, Post-conflict Peacebuilding and the Promotion of Durable Peace, Rule of Law and Governance (1)
Label:
conflict,
OWG8,
peace and security,
post 2015 development agenda,
post conflict intervention,
women
Langganan:
Postingan (Atom)
