Tampilkan postingan dengan label Women Peace and Security. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Women Peace and Security. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Januari 2017

The Hidden Pearls: Heroic Stories of Women Peacebuilders

Suasana sunyi. gelap dan dingin mengiris. Tak ada satu orangpun berani keluar dari rumahnya, ketika Raibah dijemput oleh rombongan TNI di rumahnya di atas bukit. Tak satupun anggota keluarganya diperbolehkan menemaninya. Raibah sendiri saja.

Hari itu genap dua puluh lima hari Raibah melahirkan. Kondisinya juga masih lemas. Tidak diberitahu alasan penangkapannya, Raibah lantas digiring ke markas TNI terdekat, di kecamatan Tapak Tuan. Tidak merasa bersalah, Raibah menghadapi petinggi TNI dengan percaya diri dan penuh waspada. Setelah enam jam pemeriksaan intensif, akhirnya dia dipulangkan ke rumahnya.


Raibah, satu dari banyak perempuan akar rumput yang berjuang untuk membumikan perdamaian di desanya. Keyakinannya akan non violence action, mengajarkan kepada kita untuk yakin bahwa penyelesaian konflik dengan tanpa kekerasan akan membawa perdamaian yang lebih lestari. Cara-cara non violence yang dipraktekkan perempuan tidak ternarasikan dengan kuat di publik. Ini karena upaya-upaya perempuan dalam menjaga perdamaian dianggap bukanlah sebuah cerita heroik. Cerita-cerita tersebut banyak terkubur bersama dengan kesibukan domestik dan peran-peran reproduksinya.

Minggu, 27 November 2016

Asia-Pacific Regional Symposium on National Action Plans on Women, Peace and Security

UN Security Council Resolution 1325 (UNSCR 1325), unanimously adopted in October 2000, stressed the importance of the equal participation and full involvement of women in all e orts to maintain and promote peace and security. In the years since, seven additional resolutions on women, peace and security (WPS) have been adopted. That created a robust framework for implementing the WPS agenda and reinforced global commitments, treaties and conventions on women’s rights, including the 1979 Convention on the Elimination of all forms of Discrimination against Women (CEDAW) and the 1995 Beijing Declaration and Platform for Action.

To deliver these commitments at the national level, the United Nations has encouraged Member States to adopt National Action Plans on WPS (NAPs- WPS) to implement the resolutions and monitor the progress of the WPS agenda. As of October 2016, 64 countries had adopted NAPs-WPS, including nine in the Asia-Paci c region. Several other coun- tries in the region are currently developing NAPs- WPS.

From 11 to 13 July 2016, UN Women and the Gov- ernment of Japan jointly convened an Asia-Paci c Regional Symposium on National Action Plans on Women, Peace and Security in Bangkok, Thailand. Participants included people from 17 countries and over 80 experts including representatives of region- al governments, Ministers and senior Parliamentari- ans, leading academics, and civil society members, as well as representatives of United Nations agencies. The aim was to lay the groundwork for implementation of all stages of the NAP-WPS cycle and to consider measures to ensure that NAPs-WPS actually bene t women a ected by con ict.

Complete report can be read in this link 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Security Sector Partnership: Learning from Mindanau


“Kita telah memiliki ketrampilan mempertahankan negara dari invansi negara lain. Peacebuilding adalah skill baru kita membaca acaman internal,” Jenderal Frere (ret). Dia juga menambahkan bahwa saat ini Militer telah kehilangan pekerjaan. Artinya banyak pekerjaan yang dilakukan oleh militer bukanlah tugas utama mereka untuk melindungi negara dari invansi asing. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh pimpinan batalyon  Alberto, yang sangat yakin bahwa pendekatan perang untuk menyelesaikan konflik di Mindanaw dianggap tidak akan membawa hasil. Bukan hanya militer yang harus mengubah paradigma berpikir tentang penyelesaian konflik, NGO juga harus mengubah cara pandang dalam mendorongkan perdamaian, dimana pelibatan aktor kunci yaitu sektor keamanan baik dari aktor negara maupun non negara sangat penting. Formula ini yang dipakai oleh Balay Mindanaw, sebuah NGO yang lahir pada tahun 1996 di kota Cagayan De Oro (CDO). Melalui program Security Sector Partnership (SSP), Balay meyakini bahwa hanya dengan mengintegrasikan pendekatan perdamaian ke dalam sektor keamanan, maka peace talks bisa dimulai.