Minggu, 01 April 2018

ANAK-ANAK DIJILBABI ATAU DICADARI, ADA APA?

#AnakBercadar #IslamNusantara 

Berbalut gamis kembang-kembang dan  jilbab sorong warna merah, seorang anak berusia 2 tahun terseok-seok dituntun oleh ibunya yang juga mengenakan gamis beda motif dengan jibab sorong juga. Mereka menyebrangi jalan menuju parkir motor Bintaro Xchange, Mall kesayanga aku dan suami menghabiskan waktu untuk jogging, ngopi dan baca buku setiap week end. 

Kami berpapasan. Kutebarkan senyum manisku ke arah si ibu yang sibuk membujuk si anak agar segera bergegas. Kuperhatikan si anak kecil itu, yang terlihat kurang nyaman dengan gamis lucunya membalut tubuh mungil. Dia terlihat beberapa kali mengangkat gamisnya. Mungkin untuk menolongnya agar cepat mengikuti ibunya. Dalam hati saya berkata "Duh...apa tujuan orang tua memilihkan baju gamis dan berjilbab  buat si anak berumur 2 tahun?." 

Kemarin sore pulang dari Sarinah, saya dan suami juga menemukan anak-anak berpakaian gamis hitam dan bercadar. Dia duduk bersama bapaknya yang mengenakan baju koko, celana cingkrang dan berjenggot. Ibunya duduk pas sebelah dia dengan menggendong adiknya yang lebih kecil, kira-kira umur 2 tahun. Si anak tersebut mengunakan jilbab. Ibunya menggunakan gamis hitam, dengan jilbab lebar dan cadar hitam. Si anak yang berumur 11 tahunan ini, juga mengenakan baju senada dengan ibunya dilengkapi cadar hitam. Mereka duduk di seberang saya dengan posisi horisontal. 

Minggu, 25 Maret 2018

Menebarkan Islam Indonesia, Mengukuhkan Peran Ulama Perempuan

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Hubbul Wathon minal Iman Wala Takun minal Hirman Inhadlu Ahlal Wathon….(Pusaka hati wahai tanah airku Cintamu dalam imanku Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku!..)

Sepenggal syair di atas diambil dari salah satu Mars NU berjudul Syubbanul Wathon (Cinta Tanah Air) karya Abdul Wahab Hasbullah ini berkumandang di House of Lords, London, saat Faqihuddin Abdulqodir, salah satu delegasi Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) memperkenalkan tradisi Pesantren pada forum Rising Women Ulama, pada tanggal 15 Maret 2018. 

Syair berbahasa arab dengan hentakan nada patriotik itu menggema dalam ruang berbalut kayu dengan ukiran klasik ala Eropa yang menawan. Suara berat Faqih dalam nada sedikit datar menembus dinding berkarpet hijau dengan motif kerajaan yang indah. Sejumlah ornamen lukisan anggota parlemen dalam balutan pakaian kerajaan Inggris yang khas, seolah bangkit kembali dalam sikap patriotik bela negara. Hening…Kulihat para peserta tersenyum tipis dan retina mereka membesar karena kagum, saat mendengar makna dari lagu tersebut.

Minggu, 25 Februari 2018

Can "People to People Dialogue" Bring Peace in Rakhine?

If you dont have "power", than you bring "people". Satu pembelajaran yang pernah saya petik dari pengalaman Kursus Non Violent Civil Resistance di Tufts University, Boston pada 2012 silam. "Power" disini mengacu pada kekuatan struktural. Gampangnya kalau anda ada di struktur maka power atau kekuasaan adalah kekuatan anda untuk melakukan perubahan, yaitu dengan memproduksi kebijakan-kebijakan dan program-program berorientasi pada perdamaian, keadilan dan kesetaraan untuk semua orang. Sementara  jika anda tidak dalam posisi di struktur maka kekuatan anda adalah "People". Siapa people ini? Tentu saja mereka yang merasakan pengalaman "suffering" dan ingin ada perubahan. 

Tulisan ini ingin menyoroti bagaimana kekuatan pengalaman Indonesia dalam menggerakkan "people" sebagai basis untuk rekonsiliasi konflik di Maluku, Pasuruan, dan Poso. Pengalaman ini ingin dibagi pada negara tentangga Myanmar yang sedang dirundung konflik. Dalam sebuah acara  kunjungan para tokoh masyarakat Rakhine State di Myanmar, yang difasilitasi oleh The Habibie Center (THC) dan Humanitarian Dialogue Center (HDC), di Hotel Ayana Mid Plaza Jakarta pada 22 Februari 2018, people to people dialogue terjadi sangat baik. Kebetulan saya mewakili AMAN Indonesia untuk berbagi sebuah model penguatan ketahanan masyarakat melalui peran perempuan. Hadir juga Romo Benny, Jecky Manoputi dan Anis Hamim, yang juga berbagi tentang pengalaman membangun rekonsiliasi di konteks kasus pembakaran gereja di Jawa Timur tahun 1998, konflik bernuansa agama yang terjadi di Ambon pada akhir tahun 1999 dan secara umum upaya melestarikan perdamaian dalam konteks ke-Indonesiaan saat ini.